
'Aku Cinta Produk Indonesia'
'Aku Bangga Memakai Produk Indonesia'
Slogan di atas untuk era globalisasi seperti sekarang ini mungkin hanya akan menjadi sebuah gurauan atau lelucon. Bagaimana bisa slogan itu diserukan lagi jika ternyata produk negara lain yang membanjiri pasaran lokal, apa bisa slogan itu diserukan lagi jika hampir seluruh anak bangsa terkesan malu menggunakan produk sendiri dan bangga menggunakan produk negara lain. Terkesan lucu jika pada saat menyerukan slogan itu, sepatu, baju, handphone bahkan sarung tangan tertulis Made In China atau Made In Japan.
Mana bukti pemerintah akan membantu mengatasi banjiran produk luar negeri terhadap pengrajin lokal, tak heranlah banyak sekali pengrajin lokal yang gulung tikar akibat keadaan yang terus seperti ini.
Kita ambil contoh dari mainan, banyak sekali jenis mainan tradisional yang dilupakan oleh anak-anak Indonesia, seperti gasing dari kayu yang biasanya dijajakan oleh bapak-bapak tua. Kini kita jarang menemukan bapak-bapak tua yang menjajakan gasing kayu-nya, sekarang bermunculan pedangan yang menjajakan gasing plastik Made In Negara lain. Miris memang, sampai petani buah dalam negeri saja harus merasakan penolakan dari warga lokal. Bagaimana kita masyarakat menghadapi polemik seperti ini? Jika kita bukan pengrajin ataupun pengusaha barang-barang lokal, kita tidak perlu panik menghadapi polemik ini, namun jika kita seorang pengrajin ataupun petani buah, apa yang harus kita lakukan? duduk diam dan melihat serbuan barang dari negara lain menghiasi pasaran lokal? Terus diam hingga menunggu kehabisan modal?
Tentu tidak kan? Apa yang harus kita perbuat? Itu masih misteri yang tak kunjung ada solusinya.
AKU CINTA PRODUK INDONESIA.
UN, ajang gila massal?

stress gua! <-- omongan anak SMA menjelang UN yang tinggal menghitung hari. UN menurut pandangan beberapa ahli, memang sangat efektif untuk melihat standart ilmu siswa secara nasional. Tapi, menurut gua, UN itu enggak efektif, perhatikan aja, setiap abis UN, pasti banyak berita di televisi yang mengatakan jika siswa/i banyak yang menderita stress atau bahkan menjadi gila. parah banget gak sih itu?
Kenapa cuman untuk lulus sekolah aja, taruhannya sampe nyawa sih? Bahkan menurut gua, UN juga bukan lagi ajang untuk mengukur kemampuan siswa dalam pendidikan, melainkan UN menjadi ajang taruhan hidup atau mati dan merupakan ajang perlombaan kebohongan. Bohong banget deh kalo ada anak ngerjain UN dengan jujur, sepintar-pintarnya anak, pasti ada kekhawatiran dalam dirinya. Ngeri bo! Apalagi tahun ini gak ada ujian ulang! Untuk sekadar usul aja yak Pak Muhammad Nuh, saya perwakilan dari beberapa siswa mengatakan keberatan atas pemberlakuan sistem baru yang menghapuskan ujian ulang dan jika bisa, sebaiknya bapak menghapuskan kata-kata 'HOROR' dari UN sehingga tidak banyak siswa yang khawatir menjelang UN. Sekian aja, semoga Pak Muhammad Nuh baca :)
Lipsync membuat Briptu Norman Terkenal?
Galau? Kebiasaan Baru Remaja?
"Gue lagi galau." omongan yang lagi biasa kita dengar dari para remaja. apa si sebenarnya galau itu?
dari hasil bincang-bincang dengan seorang ahli bahasa indonesia S-2, dia berkata jika galau itu = bingung. bingung? apa si yang dibingungin seorang remaja? kebingungan karena ada disorientasi seksual? errggghhh. tapi sebenarnya yang membuat para remaja galau biasanya adalah urusan cinta dan dengan galaunya para remaja, mereka akan menyerang social network untuk menumpahkan semua perasaan mereka, ada sedikit pergeseran nilai tradisi di sini. jaman dulu, orang menuliskan perasaan mereka tentang cinta di sebuah buku harian dan ditulis dengan rahasia, bahkan sampai ada buku harian dengan gembok dan kuncinya. mereka tidak ingin rahasia mereka diketahui orang lain, namun sekarang? remaja jaman ini bahkan terkesan sengaja untuk mencari perhatian dengan 'memamerkan' kegalauan mereka di status facebook atau di twitter. memalukan. bahkan tak jarang mereka bisa memaki, bersumpah serampah di social network tanpa tahu malu dan adat lagi.
back to galau, sebenarnya galau itu gak perlu yah di pamerin di social network. biar apa gitu? biar semua orang tahu lo lagi galau? ga banget deh. mending status facebook dibuat untuk memotivasi beberapa orang daripada dijadikan ajang menumpahkan perasaan. hey, perasaan lo diliat seisi dunia, malu wei malu!
tapi terkadang pola pikir memang berbeda dari masing-masing orang, ada yang menganggap menumpahkan semuanya di social network adalah hal yang wajar dan sah-sah saja.
semua orang boleh kok berpendapat, gue juga cuman berpendapat dari pengalaman aja kok, waktu itu gw pernah buat status facebook memaki dan sumpah serampah karena kesal dengan beberapa orang, namun saat teman gue yang lagi sensitif ngeliat status facebook gue, dia langsung berpikiran negatif dan menganggap status itu untuk dirinya, kontan dia marah dan kami berdiemin satu sama laen. gak enak kan kalo masalahnya gitu? tujuannya ngebungan kemarahan malah dapet kebencian. oke guys, up to you aja, gimana enaknya u, gimana nyamannya elu, kita semua bebas berpendapat kan? tapi sebisa mungkin say no to galau yah! :D
Ketika Sebenarnya Kita Tidak Tahu
Well, ini blog gw yang entah keberapa. dan mungkin beberapa sudah gak jelas lagi kabarnya. hahahaha
seperti hal-nya sifat manusia yang selalu berganti-ganti dan merasa sok tau, begitupula dengan keadaan gw saat mulai blogging, dengan berpikir jika blogging itu mudah dan gampang, gw mulai dunia blogging gw 2 tahun lalu, ta[i dalam hal menghias blog, gw rada kurang ngerti jek! maklum ga ngerti HTML *nyengir*
jadi, sesuatu yang terkadang kita anggap mudah itu gak selamanya mudah, terkadang ternyata itu sebuah kesulitan yang besar. makanya itu, jangan jadi sok tau karena ujung-ujungnya malah gak tau!